Dinamika Magang MBKM di KPU: Ruang Pembelajaran, Tantangan, dan Catatan Evaluatif
Jember, kab-jember.kpu.go.id - Program Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memiliki daya tarik besar bagi mahasiswa Sastra Indonesia semester lima yang ingin menyelami dunia profesional, termasuk penulis. Motivasi utamanya melampaui sekadar pemenuhan konversi SKS; ini adalah upaya strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan praktik lapangan guna mengasah hard skill maupun soft skill. Selama empat bulan bertugas di Komisi Pemilihan Umum (KPU), penulis berkesempatan mengimplementasikan berbagai kompetensi, mulai dari manajemen administrasi hingga komunikasi kelembagaan. Pengalaman ini sangat krusial dalam melatih adaptabilitas terhadap ritme dan budaya birokrasi pemerintahan. Kendati demikian, realitas di lapangan tidak selalu berjalan mulus sesuai ekspektasi awal, sehingga memunculkan urgensi bagi penulis untuk melakukan refleksi kritis demi perbaikan kualitas program magang di masa mendatang.
Proses adaptasi di instansi pemerintah menjadi tantangan tersendiri, di mana penulis sempat mengalami kecanggunguan untuk berinisiatif di awal masa tugas yang berdampak pada kepercayaan diri. Selain itu, relevansi antara tugas harian dengan mata kuliah konversi dirasa belum maksimal, sehingga penerapan teori menjadi terbatas. Hambatan lain muncul dari dinamika komunikasi internal yang terkadang kurang empatik, yang berpotensi memengaruhi kenyamanan psikologis peserta magang. Masalah ini diperparah dengan sistem pendampingan yang belum terstruktur rapi; ketidakjelasan pembagian peran antara mentor lapangan dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) seringkali memicu kebingungan. Mekanisme umpan balik pun dinilai kurang transparan, di mana evaluasi kinerja jarang disampaikan secara langsung kepada peserta, melainkan melalui pembicaraan di luar forum pembinaan yang justru menimbulkan ketidaknyamanan.
Sebagai langkah konstruktif, penulis merekomendasikan perombakan sistem mentoring agar lebih terorganisir dan komunikatif. Diperlukan evaluasi berkala, baik mingguan maupun bulanan, yang disampaikan secara lugas agar peserta dapat segera memperbaiki diri. Sangat penting bagi mitra magang untuk memahami substansi mata kuliah konversi agar dapat merancang penugasan yang terstruktur, bertarget, dan relevan dengan capaian pembelajaran mahasiswa. Dengan adanya peta kerja yang jelas, progres kompetensi peserta dapat terukur dengan baik. Terakhir, penciptaan lingkungan kerja yang mengedepankan etika komunikasi dan budaya saling menghargai mutlak diperlukan demi menjamin kesehatan mental serta profesionalisme selama kegiatan berlangsung.
Penulis : Zulfa Yuli Asmawati - Mahasiswa FIB UNEJ 2023